LINGGATERKINI – Bulan suci Ramadhan 1447 H (2026 M) kembali hadir sebagai momentum spiritual yang sangat dinantikan umat Islam. Di bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan ini, setiap Muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berbagai ibadah menjadi bagian dari keseharian umat Islam selama Ramadhan. Mulai dari ibadah wajib seperti puasa dan shalat lima waktu, hingga berbagai ibadah sunnah yang semakin menghidupkan suasana Ramadhan di tengah masyarakat.
Puasa Ramadhan merupakan kewajiban utama yang dijalankan umat Islam dengan menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah ini bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga menjadi sarana melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.
Selain itu, shalat lima waktu tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan seorang muslim. Justru di bulan Ramadhan, banyak umat Islam berupaya meningkatkan kualitas shalatnya dengan lebih khusyuk dan menjaga waktu yang tepat.
Di samping ibadah wajib, Ramadhan juga diisi dengan berbagai ibadah sunnah seperti shalat Tarawih dan Witir yang dilaksanakan setiap malam setelah shalat Isya. Shalat ini menjadi salah satu tradisi ibadah yang mempererat kebersamaan umat Islam, terutama ketika dilakukan secara berjamaah di masjid.
Sahur juga menjadi bagian penting dari ibadah puasa. Meski terlihat sederhana, sahur memiliki nilai keberkahan yang besar sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Begitu pula dengan berbuka puasa yang dianjurkan untuk disegerakan dengan makanan yang sederhana dan bergizi.
Namun di antara berbagai amalan tersebut, membaca dan mentadarus Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat istimewa di bulan Ramadhan . Hal ini bukan tanpa alasan, sebab Ramadhan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan bulan ini untuk meningkatkan intensitas membaca Al-Qur’an. Di berbagai masjid, mushala, hingga rumah-rumah, kegiatan tadarus menjadi pemandangan yang sangat familiar selama Ramadhan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk bersama membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bergantian.
Tradisi tadarus ini bukan sekedar membaca, namun juga menjadi upaya menghidupkan kembali hubungan spiritual manusia dengan kitab sucinya. Setiap huruf yang dibaca diyakini membawa pahala yang berlipat ganda, apalagi jika dilakukan di bulan Ramadhan.
Lebih dari itu, membaca Al-Qur’an juga menjadi sarana menenangkan hati dan membimbing manusia agar kembali mengingat tujuan hidupnya. Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh kesibukan, tadarus Al-Qur’an menjadi pengingat bahwa ada nilai-nilai ilahi yang harus tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadhan pada akhirnya bukan sekedar menjalankan ibadah secara ritual, namun juga tentang bagaimana umat Islam mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Jika tadarus hanya berhenti pada bacaan tanpa pemahaman dan pengamalan, maka makna Ramadhan belum sepenuhnya tercapai.
Oleh karena itu, bulan Ramadhan seharusnya menjadi kesempatan terbaik untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an membacanya, memahami maknanya, serta menjadikannya sebagai cahaya dalam menjalani kehidupan.
Sebab ketika Al-Qur’an benar-benar hidup di dalam hati, maka Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga menjadi bulan perubahan menuju pribadi yang lebih baik.
Penulis: Ruslan



