Derasnya Media Sosial Jadi Tantangan, IJTI Dorong Jurnalisme TV Tetap Berkualitas

by -364 Views

JAKARTA — Perubahan lanskap media di era digital menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi para jurnalis televisi. Kecepatan arus informasi melalui media sosial membuat media profesional dituntut tidak hanya menyampaikan berita dengan cepat, tetapi juga memastikan informasi yang disajikan tetap akurat, berimbang, dan memiliki nilai bagi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) yang berlangsung di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Mengangkat tema “Membaca Arah Jurnalisme TV di Tengah Ketidakpastian”, kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang hadir

Pada kegiatan tersebut juga dihadiri lansung Ketua Umum IJTI Pusat, Ketua Dewan Pers, serta sejumlah pengurus IJTI dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menilai perkembangan media sosial telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh dan mengonsumsi informasi. Banyak konten yang mendapatkan perhatian besar bukan karena kedalaman informasi, melainkan karena mampu memancing emosi dan menciptakan sensasi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi media massa. Ketika informasi yang beredar begitu cepat tetapi tidak disertai kualitas dan edukasi yang memadai, pers memiliki peran penting untuk memberikan penjelasan yang benar kepada publik.

“Jika media sosial berkualitas, tentu sangat membantu mengurangi beban dan tugas pers. Namun, ketika penyebarannya luar biasa tetapi tidak berkualitas, di sinilah tugas pers untuk meluruskan dan menjernihkan suasana ruang publik,” tegas Komaruddin.

Ia mengatakan, persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini bukan semata-mata bagaimana mendapatkan informasi secara cepat. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipercaya serta mampu membangun kualitas diskusi di ruang publik.

Di tengah kondisi tersebut, Ketua Umum IJTI Pusat, Herik Kurniawan, mengajak para jurnalis melakukan evaluasi terhadap pola kerja jurnalistik yang selama ini dijalankan.

Herik menilai perkembangan teknologi harus diikuti dengan perubahan cara berpikir dalam menghasilkan karya jurnalistik. Jurnalis tidak cukup hanya menjadi pihak yang pertama menyampaikan sebuah peristiwa, tetapi harus mampu menjelaskan konteks dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Karya jurnalistik tidak semestinya berhenti pada aktivitas menyampaikan informasi atau menyebarkan data. Jurnalisme juga harus mampu memberikan makna, menghadirkan perspektif, serta membawa dampak positif bagi masyarakat,” ujar Herik.

Ia menegaskan, media massa memiliki posisi strategis dalam mengawal berbagai proses perubahan di Indonesia. Untuk itu, kualitas jurnalistik harus terus diperkuat melalui pembaruan metode kerja, peningkatan kapasitas wartawan, serta keberanian menghadirkan karya yang memberikan manfaat nyata.

Herik juga mengingatkan agar jurnalis televisi tidak larut dalam persaingan popularitas di ruang digital. Menurutnya, karakter utama media profesional harus tetap dipertahankan, yakni mengedepankan verifikasi, akurasi, independensi, dan kepentingan publik.

Pandangan lain juga disampaikan Ketua IJTI Kepri dan juga merupakan Korwil IJTI Sumatra, Gusti Yennosa, yang akrab disapa Oca. Ia tidak sepakat jika kondisi jurnalisme televisi saat ini langsung disebut sedang tidak baik-baik saja.

Menurut Oca, jurnalisme televisi masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Tantangan yang ada justru harus menjadi pemicu bagi para jurnalis untuk semakin memperkuat profesionalisme dan menjaga keberadaan organisasi sebagai wadah bersama.

“Saya tidak berani mengatakan dunia jurnalisme tidak baik-baik saja. Karena, menurut saya masih baik-baik saja. Saya berharap agar IJTI tetap menjadi tempat bernaungnya jurnalis TV sampai ke depannya,” ujar Oca.

Ia berharap IJTI terus mampu menjadi rumah bagi para jurnalis televisi sekaligus memperkuat hubungan antaranggota di berbagai daerah.

Peringatan HUT ke-28 IJTI akhirnya tidak hanya menjadi agenda perayaan organisasi, tetapi juga ruang untuk melihat kembali arah perjalanan jurnalisme televisi di tengah perubahan teknologi dan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Di tengah persaingan dengan media sosial, jurnalisme televisi dituntut menemukan kembali kekuatannya: bukan sekadar menjadi yang tercepat, tetapi menjadi sumber informasi yang paling dapat dipercaya, mampu memberi konteks, dan tetap berpihak pada kepentingan publik.**

No More Posts Available.

No more pages to load.