LINGGA TERKINI – Suasana haru tak terbendung saat seorang nenek berusia 84 tahun, Kecit, menerima bingkisan sembako dari IPTU Maidir Riwanto. Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, ia mengucapkan terima kasih sembari memanjatkan doa tulus.
“Terima kasih, Nak… semoga berkah,” ucapnya lirih, penuh haru.
Momen sederhana itu menjadi gambaran nyata betapa kehadiran seorang polisi bisa begitu berarti bagi masyarakat kecil.
IPTU Maidir Riwanto, yang kini menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Lingga, dikenal sebagai sosok yang tak hanya tegas dalam tugas, tetapi juga lembut dalam kemanusiaan. Di balik seragamnya, tersimpan kisah hidup yang penuh perjuangan.

Lahir dan besar di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, ia tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya, seorang guru, menjadi sosok penting dalam hidupnya bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga teladan dalam pengorbanan.
Di tengah keterbatasan, sang ayah tetap berjuang keras demi keluarga. Selain mengajar, ia rela mengambil pekerjaan tambahan sebagai wasit sepak bola demi menambah penghasilan.
Namun, perjuangan itu tak selalu cukup. Kehidupan mereka tetap jauh dari kata berkecukupan.
Kenangan masa kecil itu masih membekas kuat, terutama saat menjelang Hari Raya Idulfitri. Di saat anak-anak lain bisa dengan mudah mendapatkan baju baru, Maidir kecil harus menunggu dengan penuh harap.
“Kalau lebaran sudah dekat, ayah sering berutang dulu supaya saya bisa punya baju baru,” kenangnya, mengenang pengorbanan sang ayah.
Dari sosok ayahnya itulah ia belajar arti tanggung jawab, keikhlasan, dan ketulusan dalam membantu sesama. Nilai-nilai itu kemudian tumbuh menjadi bagian dari dirinya hingga kini.
Tak heran, ketika kini mengemban amanah sebagai perwira polisi, IPTU Maidir memilih untuk tetap dekat dengan masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan.
Tanpa banyak sorotan, ia rutin membagikan bantuan sembako kepada warga kurang mampu, tidak hanya pada hari Jumat. Ia juga turun langsung ke lapangan, menyapa warga satu per satu, memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak.
Seperti yang dialami nenek Kecit.
Bagi IPTU Maidir, bantuan itu mungkin sederhana. Namun bagi Kecit, itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Air mata yang jatuh menjadi saksi bahwa kepedulian sekecil apa pun mampu menghadirkan harapan besar.
Tak hanya itu, kepedulian IPTU Maidir juga terlihat saat ada warga yang sakit. Ia kerap datang menjenguk, memberikan bantuan, bahkan membantu proses pengobatan bagi masyarakat yang kesulitan.

Baginya, kehadiran polisi bukan hanya saat ada persoalan hukum, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan uluran tangan.
“Lingga ini tempat saya lahir dan dibesarkan. Saya tahu rasanya hidup susah. Jadi kalau sekarang bisa membantu, itu sudah menjadi kewajiban saya,” ujar IPTU Maidir, Sabtu (23/05/2026).
Di tengah tugas berat sebagai penegak hukum, ia tetap menjaga sisi humanisnya. Baginya, menjadi polisi bukan hanya soal menindak, tetapi juga melindungi dan mengayomi dengan hati.
Kisah IPTU Maidir Riwanto menjadi cerminan bahwa nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sejak kecil, terutama dari perjuangan orang tua, mampu membentuk karakter seorang pemimpin.

Dari anak seorang guru sederhana yang penuh keterbatasan, kini ia hadir sebagai sosok polisi yang tak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menghadirkan harapan bagi masyarakat.
Dan di mata seorang nenek bernama Kecit, sosok itu bukan sekadar apparat melainkan malaikat penolong yang datang di saat yang tepat.
Penulis : Ruslan



