Kupas Cerpen ’Bianglala di Langit Natuna’ Karya B.M. Syamsuddin

Pinterest LinkedIn Tumblr +

Oleh: Annisa Puteri Utami, Mahasiswi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Karya sastra cerpen berjudul ‘Bianglala di Langit Natuna’ yang diambil dari sebuah Antologi Cerpen karya B.M. Syamsuddin. B.M Syamsuddin memiliki nama Asli Bujang Mat Syamsudin adalah seorang Sastrawan, yang lahir 10 Mei 1935 di Sedanau, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. BM Syam adalah seorang pengarang yang ulet dan berprinsip.

BM. Syamsudin memulai karya penulisannya dengan menulis puisi-puisi beberapa tahun, kemudian baru aktif menulis pada koran dan Majalah. Selain menulis sajak dan karya-karya fiksi (roman), BM Syam juga banyak menulis esei, kritik dan artikel kebudayaan di berbagai media massa di Indonesia.

Di dalam cerpen ‘Bianglala di Langit Natuna’ memiliki unsur-unsur intrinsik, sebagai berikut.

Tokoh dan karakter tokoh/penokohan menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Sedangkan watak, perwatakan atau karakter menunjukkan pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seseorang tokoh. Yaitu Prof light (Tulus, demawan), Pitoy (Nasib tidak baik pada dirinya), Van Haam (Nasib tidak baik pada dirinya), dan Nur Lela (Sopan, sederhana).

Latar/Setting, terbagi atas tiga bagian, yaitu latar tempat, waktu dan suasana. Pada Latar tempat di bandara, di pantai, dan di pasir putih, Latar waktu setengah tahun, telah lalu, dahulu, dan hari ini, dan latar suasana Ramai, senang, marah, panik, grogi, cemburu, dan haru.

Alur/Plot digunakan dalam cerpen ‘Bianglala di Langit Natuna’ adalah alur mundur.

Sudut pandang pada cerpen ini, adalah orang pertama. Karena menggunakan kata ganti “Aku”, gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen ‘Bianglala di Langit Natuna’ sulit untuk dimengerti pembaca, misalnya terdapat kata terjuntal, tersoho, meniti-niti, ciak miak suara, Perasaan belas, tersibak, hayat terakhir, dan berbendang-bendang.

Tema yang terdapat pada cerpen ‘Bianglala di Langit Natuna’ adalah ketulusan.

Yang terakhir adalah Amanat, yaitu ketika seseorang menunjukkan kegigihan, maka hal itu dapat membuat orang menjadi semangat dalam mencapai apapun. Ketika seseorang tulus dan bijaksana, maka keinginan itu sendiri akan berhasil kedepannya. *

Share.

Leave A Reply